Oleh: muda99 | 03/04/2011

Memilih Atas Dasar “iman”

Sobat muda yang se”iman”… semoga kasih sayang Allah tak putus untuk kita semua.
Disetiap detak kehidupan, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Di setiap persimpangan jalan, kita harus jeli menentukan, jalan mana yang akan membawa kita ketempat tujuan dengan selamat, dan kalau bisa: cepat.
Di setiap kebimbangan, kita dihadapkan pada persoalan mana yang terbaik akibatnya untuk kita. Bahkan tak jarang pilihan-pilihan itu menuntut akibat yang tidak hanya melibatkan kita secara pribadi. Tapi juga akan berakibat pada agama, keluarga, kesudahan setiap urusan kita, sahabat, atau mereka yang tidak kita sangka.. bisa saja terkena imbas dari pilihan yang kita ambil.
Dan pilihan-pilihan itulah yang akan menuntun kita kepada pilihan-pilihan berikutnya (‘afwan kalau bahasanya rada ribet, maklum..bukan ahli bahasa)
Ya, dan ketika pilihan itu di tangan kita.. maka sepenuhnya hak kita untuk memutuskan dalam ucap dan sikap. Harusnya pilihan terbaik yang kita ambil. Yaitu pilihan terbaik untuk semua, untuk agama, kesudahan setiap urusan kita, juga untuk keluarga dan mereka yang terlibat dalam urusan kita.
Lalu, bagaimana merealisasikannya?? Kali ini ana ingin sharing sedikit.. berbagi ilmu dengan sobat muda semua. Jika ada yang salah dari apa yang ana sampaikan, tolong di koreksi. Dan jika ada yang kurang.. ana sangat berbahagia jika sobat muda ada yang mau menambahnya.
Yang pertama adalah tenang. Karena perkara yang diputuskan dalam ketergesaan dan tanpa pikir panjang cenderung kurang baik akibatnya. Bukan berarti kita tak boleh berfikir strategis. Ini dalam konteks yang berbeda, apapun keadaannya, usahakan tetap tenang. Mengambil keputusan dalam waktu cepat pun harus dengan tenang, karena kepanikan kita bisa saja semakin mengacaukan suasana.
Yang kedua, sertakan Allah dalam setiap urusan kita. Pilihan-pilihan yang kita hadapi saat bahagia maupun susah, itu datangnya dari Allah. Maka sebaiknya kita sertakan peran iman kita. Sesuai dengan pemahaman kita akan ilmuNya. Karena hanya dengan berpegang teguh pada kitab Allah& sunnah rasulNya, kita akan selamat di dunia,.. juga akhirat nantinya.
Hal kedua inilah yang ingin ana bicarakan kali ini, tentang memilih dengan iman.
Iman adalah apa-apa yang kita yakini dalam hati, diucapkan oleh lisan, dan tampak nyata dalam perbuatan. Yup, itu kita sering mendengarnya sejak masa kanak-kanak. Tapi sudahkah kita beriman dalam setiap perkara yang kita hadapi? Tentu masing-masing pribadi dan Allah saja yang tau.
Indikasi yang paling mudah untuk menilainya, ada ketika berhadapan dengan beberapa pilihan, kita bisa manjawab tanya pada diri sendiri “apakah kita fikirkan akibat dari perkara yang kita hadapi untuk agama kita? Untuk kualitas ibadah kita? Untuk akhirat kita?”
Jika jawabannya adalah “ya”, maka pertanyaan selanjutnya adalah “sejauh apa akibat dari pilihan kita itu untuk agama kita? Untuk kualitas ibadah kita? Semakin baik, atau burukkah?”
Ehm,, bukan maksud ana menghakimi. Tapi setiap pribadi muslim sudah seharusnya sering melakukan introspeksi diri. Tentu saja untuk menjaga iman, kehormatan diri sebagai hamba yang beriman, juga untuk kesudahan setiap urusan kita nantinya.
Bukan hanya keluarga, kepentingan kita di dunia, atau nafsu semata yang seharusnya jadi prioritas pilihan kita. Tapi jauh lebih penting dari itu adalah kepentingan agama. Karena dengannya, kita bisa tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia hanya perantara yang fana.
Contoh sederhana ada ketika menghadapi ujian, kita dihadapkan pada pilihan mengerjakan soal sendiri atau mencontek? Toh yang dicontekin juga mau.. disisi lain itu berarti kita tak percaya pada kemampuan diri sendiri&upaya kita belajar selama ini. Atau tetap mengerjakan sendiri, appaun hasilnya nanti? Hayo..pilih mana??
Misal lagi, di waktu senggang.. apa yang antum pilih untuk mengisinya? Maen game? Menghubungi “teman dekat”? membaca buku? Mencari kesenangan? Tilawah? Hafalan ayat-ayat al-Qur’an? Atau..membiarkannya berlalu begitu saja??
Saat antum marah, apa yang antum pilih? Diam? Melampiaskan pada orang lain? Membanting barang?
Ketika berkomuniaksi dengan seseorang yang “special”.. antum gunakan panggilan mesra yang menurut Allah kita belum berhak atasnya, atau ikuti nafsu saja?
Atau jika antum seorang lelaki, ketika dihadapkan pilihan beberapa gadis untuk dijadikan istri.. kualifikasi apa yang antum prioritaskan untuk memilih yang terbaik diantara mereka?? Skill? Fisik?? Keanggunan?? Kekayaan? Keturunan? Cinta? Atau kefaqihan agamanya??
Hmm… kalau ini rasanya ana sudah pernah menyampaikan kepada sobat muda semua.. tentang VMJ, selengkapnya boleh di review di blog.
Dan jika antum seorang wanita.. ketika menghadapi “beberapa kandidat calon suami” sekaligus, bagaimana menyeleksi mereka dan yakin bahwa salah satunya adalah yang terbaik? Apakah berdasarkan siapa yang pertama mengajukan lamaran, pemahaman agamanya, pertimbangan kemantapan hati, pertimbangan orang tua, berdasarkan penghasilan mereka, atau karena cinta?? Toh tak seorangpun sempurna.. hehe, untuk ini antum perlu shalat istikhoroh ya ukhti..
Yang terpenting, untuk memilih berdasarkan iman.. kita perlu memahami apa yang Allah gariskan untuk perkara tersebut. Tentu saja kita harus kembali pada Al-Qur’an dan sunnah. Bukan perkara sulit, kan? Karena hanya dengan berpegang pada keduanya, kehidupan kita di dunia akan selamat.
Ah, semoga kita semua selalu dibimbing oleh Allah dalam menentukan dan memilih setiap yang terbaik untuk agama dan kesudahan setiap urusan kita. Untuk itu kita perlu selalu menjaga hubungan baik dengan Allah, supaya tidak lepas kendali dan memilih bukan yang terbaik.
Lewat shalat tahajjud, kita bisa berkhalwat dengan Allah…. Menyampaikan segala perkara dan memohon dengan segala do’a.
Lewat dzikir, kita bisa terus merasa dekat dengan Allah sehingga malu rasanya jika bermaksiat dihadapanNya.
Lewat istikhoroh, kita bisa memohon petunjuk untuk memilih perkara yang paling diridhaiNya,
juga amalan sunnah lainnya.. akan memperindah dan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah.
Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya? Ketika kita jauh, maka jangan terlalu berharap Allah selalu ada untuk kita. Tapi layaknya kekasih, jika kita terus mendekat, maka keyakinan bahwa Allah dekat akan selalu menguatkan kita, apapun yang harus kita hadapi.
Wallahu a’lamu bi as shawab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: