Oleh: muda99 | 02/12/2010

Sahabat Dan Perasaanku

“Sahabat”

Sejenak bersama

Mengobati kemelut rindu

Berbagi cerita perihal hidup

Bertukar kunci pembuka risalah hati

Tak ingin berpisah

Walau dalam hitungan detik

Karena kelemahan

Karena ketakutan

Karena kebimbangan

Bila jauh darimu

Maafkan inginku

Mencuri waktu luangmu

Karena akan sakit

Karena terus menjerit

Tanpa hadirmu

Disisiku

Wahai penenang hatiku

Wahai sahabat hatiku

Perjelas langkahku

Agar tak tersesat lagi                                                               Pukan-16 juni 2005-

Puisi diatas kuterima dari seorang sahabat ketika menjalani hari-hari di bangku kelas 2 SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Sebenarnya itu adalah rangkuman perjalanan kisah yang kami alami, dari pertemuan biasa hingga menjadi sangat berarti seperti sekarang ini. Dalam puisi itu jelas tertanam nilai harapan, mengungkap tentang rasa, denyut kasih, perasaan haru dan sepercik prasangka lebih dari sahabat.

Sewaktu SMA aku bukanlah siswa yang terlalu istimewa. Tak begitu terbelakang juga, se-sekali meraih juara kelas dan melambungkan namaku sesaat. Awal mengenalnya seperti halnya perkenalan teman baru pada umumnya, kaku dan seperlunya. Lambat laun perasaan itu mencair, mungkin karena gejolak remaja kami yang terlalu berekspresi, layaknya masa-masa remaja pada umumnya. Sifat asli kami yang sama-sama pendiam tak berlaku kalau si Ucup lagi keluar banyolan gilanya, apalagi kalau boim muncul dengan ke-PeDe-anya yang tak berujung. Mereka adalah teman-teman setia yang selalu mewarnai hari-hari kami di SMA ini.

Sebenarnya kami mulai saling mengenal ketika sama-sama tergabung dalam ekskul Hizbul Wathan dan akrab dengan nama angkatan “HW SMAM 1 JOE GEN’06” yang beranggotakan 11 personel. Setiap hari, selalu ada pertemuan penuh banyolan ringan yang tak jarang meruncing menjadi olokan khas anak SD, atau sekedar ngomongin guru dan senior yang keterlaluan pada hari itu. Kalau lagi serius kami bisa saling curhat blak-blakan hingga persahabatan ini mengalir begitu alamiah.

Secara pribadi kami sering berkirim surat walau hanya terpisah tembok kelas. Untuk menjaga privasi ia membuat bahasa sandi khusus, hanya kami berdua yang tau. Kadang komunikasi melalui telepon rumah, karena HP belum menjamur seperti sekarang. Meski secara pribadi aku punya masalah keluarga yang cukup menjadi beban hari-hariku, ia selalu mampu membuatku bertahan dan terus meyakinkan bahwa aku pasti bisa melalui setiap cobaan hidup yang harus ku hadapi.

Setiap hari, agenda yang jarang terlewatkan adalah bertukar surat kala istirahat menjelang. Duduk di kelas yang berbeda, justru semakin menginspirasi banyak cerita yang ingin dibagi. Ah, seperti tidak ketemu setahun saja. Kebiasaan aneh dan kami menikmatinya sekitar dua tahun terakhir kami di SMA.

Begitu istimewanya hingga rasa itu tercipta begitu saja, ia yang lebih dahulu menyadarinya. Ungkapan dalam secarik puisi, kepedulian, juga pandangan mata. Ku akui aku pun menikmatinya. Bagaimana tidak, naluriku pun secara alami beranjak dewasa dan mulai merasakan hal berbeda akan kerinduan Adam. Perlahan rasa itu singgah menelusupi relung hatiku. Yang sedikit ku pahami adalah keakraban ini selalu bisa membuat ku memenangkan hari ini dan mungkin esok, dan itu sudah cukup berarti buatku.

Bukan berarti setelah itu ada istilah menyatakan cinta dan kami jadian…

Kami tau kedekatan ini memiliki sekat, aku dan dia tak pernah sengaja untuk jalan berdua atau senda gurau yang tak ada ujungnya. Apalagi melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Kebetulan dia seorang yang faqih, karena ia sudah mulai mengenal dunia da’wah dan aktif mengaji. Meski ia juga tak selalu mampu menolak ajakan bolos temen-temen yang lain, dan kalau lagi berkeinginan hiking, baginya semua angka dalam kalender bisa jadi merah.

Sejak awal kami bersahabat, kami mencoba komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Ya, kami hanya berusaha untuk istiqomah. Kebersamaan kami hanya sebatas suara telepon, tulisan, atau ketika berkumpul dengan teman-teman yang lain. Meski adakalanya ingin berbuat lebih, kami beruntung tak memiliki kesempatan untuk itu.

Ia sering mengingatkan untuk shalat tepat waktu, juga menyempurnakan kerudung untuk menutup aurat. Ia yang menegurku untuk tidak lagi menggunakan parfum karena dalam hukum Islam memang melarangnya, atau muslimah itu sama dengan pezina. Na’udzubillah…

Namun dua tahun masa kedekatan kami tak cukup untuk membuat kami benar-benar menyadari perasaan masing-masing. Sejujurnya, kadang terbesit inginku menikmati masa remaja layaknya teman-teman yang lain, mengenal lawan jenis lebih jauh dan menjalin ikatan pacaran, meski niat itu tak pernah ku realisasikan. Aku hanya menganggapnya tak lebih dari seorang teman yang sangat baik, yang selalu ku harap bisa menjadi sahabat sejati. Ya, ia memang baik kurasa..

Kebetulan kala itu beberapa teman perempuan pun ngefans, bahkan ada yang sangat menyukai sahabatku ini. Aku tak ingin memperketat persaingan antara mereka, karena sudah pasti akulah pemenangnya. J

Kala itu aku memang sudah mendengar bahwa pacaran dilarang dalam Islam, sekolahku yang notabene agama pun mendukung itu. Namun sejujurnya aku belum benar-benar menerimanya. Ku pikir, apa salahnya mengenal lawan jenis lebih dekat sebelum menikah? Selama bisa saling menjaga diri, bukankah itu juga baik?

Ya, tak secara penuh aku mengenal Islam. Sekolah ini membuat ku banyak berubah, termasuk ekskul kepanduan HW yang secara aktif ku ikuti. Hizbul Wathan (HW) merupakan kepanduan yang kegiatannya mirip dengan pramuka, namun secara ideologi tetap berbeda karena HW mengutamakan nilai-nilai islam dalam setiap kegiatannya. Sibuknya jadwal latihan, sering lembur di sekolah dan menjadi panitia kegiatan karena kami juga anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah, atau lebih di kenal sebagai OSIS di sekolah lain, cukup banyak memberikan kami pengalaman dan melapangkan langkah kami di jalan agama ini.Ikatan batin persahabatan ini pun terbentuk bersama teman-teman lainnya, dan paling sepesial dengan sahabat yang tadi ku ceritakan. Ehm,

Semua sahabat yang ku kenal memang baik, tetapi ada perasaan berbeda dengan sahabat “spesial” ku. Bagaimanapun, ia yang paling mengertiku dari yang lain, begitu sebaliknya. Teman-teman yang lain pun memaklumi kedekatan kami. Sampai sehari sebelum ujian akhir, ia kerumah dengan membawa surat untukku. Seingatku 15 mei 2006 sore hari. Rupanya surat itu balasan dari pertanyaanku tentang siapa orang yang disayanginya dan siapakah orang berhak kita benci, beberapa hari sebelumnya. Ia menulis:

Perlukah kamu tahu, siapa orang yang paling ku sayangi. Dan orang yang berhak aku benci.

Aku bukanlah penciptamu yang selalu tahu kamu, tapi kita memiliki kesamaan, berasal dari satu pencipta. Dan bila titik itu dapat menghambat ceritamu, tentulah titik itu berupa jarak pemisah hingga kamu tak mampu menceritakannya pada yang kamu harapkan mendengar.

Orang yang ku sayangi adalah orang yang memberikan arti kebaikan dalam hidupku. Entah itu musuh ataupun sahabatku. Karena sahabat tak selalu setia dan musuh tak mustahil jadi sahabat. Walaupun terkadang aku mengungkiri karena terbias emosi sesaat.

Kebencianku pada seseorang akan membara saat emosiku tak terkendali, naik pitam dan rasio tak mempu mengendalikan aku. Kebencian itu ada saat luka merajam ragaku. Meski berangsur sembuh namun bekas itu akan selalu ada. Kamu paling tahu aku dari sahabat yang lain. Saat aku ketawa, nangis, murung, marah, sering kamu damping aku melipur laraku.

Saat ini kamu termasuk orang yang aku sayangi. Dan aku harap sayang itu akan selalu ada tanpa ternodai bekas luka. Aku sendiri bimbang antara kekaguman dan apakah harus saling memiliki ataupun hanya sebatas persahabatan sayang itu tumbuh. Saat ingin aku miliki kamu untuk selamanya ada jiwaku membisikkan bukanlah kamu yang harus ada disisiku. Saat persahabatan bergejolak terlampau jauh ingin aku bersamamu untuk selamanya. Tapi biarlah rasa itu. Setelah UAN kita tidak bisa ketemu seperti biasa lagi. Untuk itu kan udah ada yang ngatur.

Maaf, maaf, sekali lagi maaf. Rasa itu terlanjur ada. Dan mungkinkah itu salahku karena aku juga tak merencanakan itu. Bila memang pertemuan ini bagimu sangat berarti dan seperti yang kamu harapkan aku menjadi begian pembimbingmu, maka semua masa indah saat awal aku kenal kamu dan nanti kelak tiba perpisahan kita adalah suatu kebaikan.

Walaupun terkadang berupa materi, tapi ku harap berarti. Dan bila itu dari jiwa, tulus ikhlas aku merelakannya. Aku ingin kamu jadi wanita paling bahagia di dunia begitu pula dengan pendampingku nanti. Juga ibuku.

Aku minta maaf terkadang aku kurang ngerti kamu. Sering buat kamu sakit hati, penasaran, gelisah, bahkan buat kamu nangis. Mulai saat ini aku sarankan bersiap-siaplah untuk bisa hidup sendiri. Raih bahagiamu. Kamu bisa berencana, kamu yang menjalankan, dan kamu yang menikmati. Bila nanti saat bahagiamu telah tiba undang aku sebagai saksi. Biarkan air mataku mengalir lagi dan kali ini dalam bahagia.

Ungkapkan semua rasamu tentangku, semua, kalau kamu percaya aku sampai tak bersisa. Dariku tiada rasa lagi yang aku pendam. Nggak ada beban lagi dan aku udah siap meraih masa depanku. Untukmu kiranya telah layak aku ucapkan perpisahan karena aku berharap pada pertemuan. Jangan air mata menetes lagi seakan-akan kisah kita berakhir di sini. Maafkan aku telah mencintaimu, maafkan aku pernah menyakitimu. Pertemuan ini ada karena telah terencana sempurna.

Walaupun kata itu resah di dengar

Namun di ujung perjalanan

Tak luput terucap jua

Perpisahan

Hanya kerelaan

Iringi indahnya kenangan

Ehm, kata-kata itulah yang pada masa selanjutnya membuatku benar-benar berfikir dan bertanya pada diri sendiri tentang perasaanku kepadanya. Tidak ada pernyataan cinta, tidak ada kepastian hubungan, sedang perasaanku sendiri belum benar-benar ku pahami. Akhirnya ku katakan saja untuk melihat 4-5 tahun kedepan. Jika rasa itu sejati dan kita bisa menyatukan langkah dengan ikatan yang teguh, maka semoga kita menjadi yang terbaik satu sama lain. Dan jika tidak, semoga ikhlas kita tak lagi terbelenggu nafsu. Yang terbaik telah Allah SWT siapkan untuk setiap langkah yang kita tempuh.

Memang, tak lagi ada pertemuan setiap hari, sapaan, bahkan kabar. Karena aku melanjutkan kuliah di STEI Hamfara Yogyakarta yang harus ditempuh sekitar 7 jam perjalanan. Mau tak mau akupun jarang pulang. Sedangkan ia, setelah melalui perjuangan yang berat berhasil juga masuk pendidikan militer untuk bintara AD.

Sementara dunia kuliah tak jarang mengusik egoku untuk disayangi dan berpacaran. Apalagi kesempatan untuk itu tak benar-benar tertutup di lingkungan kuliah. Ketidakhadiran sahabat disisi membuatku merasa kehilangan, dan berhasil membuatku semakin menyadari arti dirinya selama ini.

Sampai suatu hari aku membaca buku berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Ust. Salim A. Fillah. Benar-benar menginspirasi dan memotivasiku untuk meneguhkan niat untuk tidak pacaran sebelum menikah. Buku itu juga yang membuatku meneguhkan langkah hanya di jalan agamaNya, remaja muslim rugi deh kalau belum baca. Karena lewat buku itu, aku baru tahu bahwa pacaran bukan diharamkan karena hukum asal dari pacaran itu sendiri, tapi dari perbuatan sebagai konsekwensinya. Aku baru tahu bahwa ada batas yang jelas dalam pergaulan antara lawan jenis dalam Islam. Aku baru mengenal bagaimana prosesi menuju pernikahan yang diridhaiNya. Ya, aku belajar.. dan terus mencoba untuk istiqomah. Meski sejujurnya setelah membaca buku itu jadi terbesit keinginan untuk menikah dini J

Sekarang sahabatku masih bertugas jauh diseberang lautan, tepatnya di pulau Ternate. Komunikasi tetap berlanjut untuk sekedar mempertahankan persahabatan dan idealisme yang telah banyak memperbaiki diri kami. Pernah aku ingin memberinya buku NPSP karya ustadz Salim ini, ternyata ia sudah pernah membacanya. Akhirnya buku itu ku berikan kepada sahabat yang lain.

Meski jauh, ku selalu berharap persahabatan ini melangkah dan terus membimbing kami untuk menuju surgaNya. Karena surga nanti pasti sepi tanpa ada sahabat disana. Perpisahan selepas SMA itu masih menyisakan harap akan adanya pertemuan, minimal 4 tahun dimulai dari kelulusan itu kami sapakat, reoni angkatan HW SMAM 1 JOE GEN’06 dengan kebanggaan masing-masing. Memang tak ada yang salah dengan perasaan, sedalam apapun itu. Tapi bagaimana kita menyikapinya, Allah telah mengatur semua. Dan sebagai hamba yang beriman, kita tak punya alasan untuk tidak mengikuti hukumNya. Semoga esok lebih baik dari hari ini, dan Allah selalu ada bersama setiap langkah kita. Amin.

Tsaqif As-Sa’idah

Kisah ini disusun untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: