Oleh: muda99 | 09/05/2010

“THE HOLY QUR’AN” ITU TELAH MENGUBAH SEGALANYA

Penampilannya jauh berbeda dibanding  dua puluh tahun silam. Kini baju gamis panjang, sorban putih serta sandal dan janggut panjang menjadi trade marknya. Wajahnya tampak bersinar. “Who is the greatest?” teriak Yusuf Islam dihadapan ribuan penggemarnya yang menjawab “Allah is the greatest”. Malam itu, disebuah hotel  di Turki ia merilis  album terbarunya, “I have no Cannons That Roar”, Sebuah  album yang berkisah tentang syuhada  yang jadi korban kebiadaban tentara Serbia.

Yusuf Islam adalah  mantan penyanyi pop kelas dunia pada dekade tujuh puluhan yang dilahirkan  dengan nama Steven Demetri Georgiou di London pada 21 Juli 1947. Beberapa karya pria keturunan Yunani dan Swedia yang  dulu dikenal dengan nama Cat Stevens ialah lagu Morning  Has Broken  serta tembang Father and Son yang akhir-akhir ini kembali dipopulerkan oleh Boyzone. Masa kecilnya dihabiskan dengan mendengarkan lagu-lagu rakyat Yunani yang kelak sangat berpengaruh dalam lagu-lagunya. Stevens mulai menulis lagu ketika balajar di Hammersmith College. Ia mencetak hit dengan lagu “I love my Boy” tahun 1967 dan “Matthew and Son” yang pernah naik ke nomor dua tangga lagu top di Inggris.

Tahun 1981 ia menyatakan, “Saya tidak lagi mencari tepuk tangan dan ketenaran”, dan memeluk agama Islam lalu berganti nama menjadi Yusuf  Islam. Sejak itulah gaya hidup, penampilan dan perilakunya berubah. Ia bertekad membaktikan hidupnya untuk membantu penyebaran dakwah Islam. Kini ia telah menemukan jawaban kebenaran yang selama ini dicarinya.

Setidaknya ada tiga peristiwa penting dalam hidup Yusuf Islam yang sangat mempengaruhinya saat ia memutuskan memeluk Islam. Pertama, ketika ia berjuang antara hidup dan mati karena menderita sakit tuberkolosis tahun 1968. Kedua, tatkala ia nyaris mati karena  hampir tenggelam  di Pantai Malibu tahun 1977. dua pengalaman hidup yang sangat berharga itu ditambah lagi ketika saudaranya, David, memberinya  sebuah terjemahan kitab Suci Al Qur’an. Sejak  itulah ia menentukan pilihan hidupnya. Ia memilih  apa yang ia anggap benar, tak tergoyahkan oleh orang lain atau sukses duniawi yang sedang menanti untuk digenggamnya. Dengan begitu, segudang keistimewaan Yusuf Islam kini bertambah dengan keistimewaan akidahnya. Yusuf Islam bukan hanya mengucapkan syahadat, tapi setelah itu kehidupannya berubah. Ia seperti membuang masa lalunya ketika ia menjadi idola jutaan orang oleh karya-karyanya.

Semua karyanya setelah itu selalu memiliki nuansa religius disamping semangat dakwah dan jihad. Ia menyumbangkan hampir setengah pendapatannya untuk amal dan membentuk Aid duna menolong korban kelaparan di Afrika pada tahun 1984. Ia juga berhasil mendapatkan dana pemerintah untuk membantu pengembangan sekolah-sekolah muslim yang kurang mendapat perhatian. Dan ditahun 1990, Yusuf Islam berkunjung ke Iran untuk sebuah misi perdamaian dan berhasil kembali dengan empat orang sandera. Ia benar-benar orang yang sedikit berbicara banyak berbuat. Beberapa waktu kemudian, ia juga merilis lagu-lagu bersemangatan mujahidin di Afghanistan. Dan ketika perang Bosnia berkecamuk, ia menggambarkan pedihnya perasaan anak-anak yang tinggal keluarganya yang menjadi korban  keganasan perang.

Yusuf Islam kini telah melihat dunia secara utuh dan memutuskan bahwa  jawabannya adalah mencari kedamaian dalam dirinya. Baginya, Al Qur’an membuat fajar benar-benar telah muncul, Morning has Broken.

Dikutip dari Khazanah Sabili no. 19 Th VII


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: