Oleh: muda99 | 21/04/2010

Meraih Kebahagiaan

Biasanya….
Yang di sebut kebahagiaan adalah ketika teraih apa yang diinginkan. Menikmati apa yang memang diharapkan. Ya, orientasi hasil. Namun, apakah bahagia itu sebenarnya??

Begitu banyak kata yang bisa kita gunakan untuk mendefinisikan sebuah kata: kebahagiaan.
Dan kita memang tak berhak menyalahkan salah satu definisi itu, atau menganggap definisi kita paling benar, bukan??
Sesungguhnya yang perlu sangat kita perhatikan memang bukan definisi bahagia. Tapi bagaimana cara meraih kebahagiaan itu. Apakah di raih dengan cara yang benar, atau semua cara kan jadi halal, asal bahagia jadi nyata???

Percayalah, betapa banyak contoh bahagia yang diraih dengan cara yang salah, tidak akan membawa maslahat, bahkan banyak madharat atau keburukan (atau, bahasa Indonesia yang lebih tepat, apa ya??he…ma syi’tum lah.)
Kenapa???coba kita renungkan bersama. Kebahagiaan yang diraih dengan cara curang, bohong, atau cara licik lainya pasti akan menimbulkan korban, bukan?? Sedangkan dalam salah satu haditsnya Rasulullah pernah bersabda, bahwa do’a orang yang teraniaya adalah termasuk do’a yang diijabahNya. Iya kalau yang jadi korban tadi berdo’anya baik?? Bahkan sifat manusiawi pasti jarang sekali yang demikian. Itu baru satu alasan.

Alasan lain, Allah akan membalas setiap apa yang manusia lakukan. Sebesar biji dzarrah-pun. Baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Semua tlah disiapkanNya balasan. Lalu balasan apa yang kita inginkan?
Sobat, bahagia yang sejati hanya diraih oleh manusia-manusia sejati yang menempuh jalan kebenaran untuk meraihnya. Bukan oleh orang-orang yang mengupayakanya dengan sepenuh tenaga. Tanpa bekal iman, semua usaha akan percuma.
Lalu apakah hakekat kejujuran..? Syaikh al-utsaimin Ta’ala berkata, “Jujur adalah, selarasnya khabar dengan realita, baik berupa perkataan atau perbuatan.”
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu bersama orang yang benar [jujur]” (QS. at-Taubah:119), dalam ayat yang lain, “Agar Allah memberikan balasan kepada yang jujur karena kejujurannya dan mengazab orang munafiq jika ia menghendakinya.” (QS. al-ahzab: 24)

Syaikh al-utsaimin rahimahullah berkata, “Itu semua menunjukkan bahwasanya kejujuran adalah perkara yang mulia dan akan mendapat balasan dari Allah, oleh karenanya wajiblah bagi kita untuk jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan sesuatu karena basa-basi atau berdebat”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta’ala sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta’ala sebagai seorang pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih).
Begitulah sobat,,

Jangan biarkan bahagia yang kita inginkan, hingga terbawa dalam mimpi siang malam menjadikan syetan aktif memotivasi kita menyepelekan cara meraihnya.
Percayalah, hanya jalan kebenaran yang kan mengantar kita menuju kebahagiaan yang haqiqi. Yang diridhaiNya….

Semoga tak kan tersia apa yang telah kita ikrarkan di setiap shalat…
Sesungguhnya shalatku,, sujudku,, hidupku, dan matiku,, hanya untuk Allah ta’ala…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: