Oleh: muda99 | 21/04/2010

Mengenal lebih dekat sosok Kartini

Tanggal 21 april merupakan salah satu hari yang diingat banyak masyarakat Indonesia, apalagi seorang perempuan, mengapa demikian, ya setiap tanggal 21 april diperingati sebagai hari Kartini. Biasanya sih perempuan-perempuan pada mengenakan kebaya dan berlomba seperti Kartini, entah di kantor atau disekolah-sekolah.

Pada tanggal ini, sosok Kartini sebagai pejuang perempuan menempati urutan pertama di Indonesia barang kali. Mengenal Kartini salah satunya dengan membaca buku kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda. Dalam buku ini tampak bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya., ” Peduli apa aku dengan segala tata cara itu? Segala peraturan semua bikinan manusia, dan itu menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu…Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, & Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Peerasaan Kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh di jalankan”. [ Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899] .

Kebencian Kartini terhadap segala bentuk etiket yang diskriminatif, mendorongnya untuk mengintip nilai-nilai yang berlaku di kalangan temen-teman Belandanya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. .” Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik. Orang baik-baik itu meniru perbuatan yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa.” [ Surat Karini Kepada Stella, 25 Mei 1899].

Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, kartini menemukan jawaban atas pertanyaan yang bergejolak dalam hatinya. Ia mencoba mendalami ajaran yang di anutnya, yaitu ISLAM. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak kartini. Hal ini di karenakan pengalaman yang tak mengenakkan dengan sang Ustadzah. Sang Ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang di ajarkannya. ” Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh di terjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang di ajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang di bacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang di ajar membaca tapi tidak di ajar makna yang di bacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang engkau jelaskan kepadku apa artinya. Tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa. Asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [ Surat Kartini kepada Stella, 3 November 1899].

Namun, pertemuannya dengan KH. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, telah mengubah segalanya.

Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat.
Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagi kiblat, lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi al-Quran, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: