Oleh: muda99 | 14/04/2010

Satu titik dan satu garis panjang

Dewasa ini, teknologi berkembang begitu pesat. Computer, handphone tak lagi bisa dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Termasuk sobat muda muslim tentunya. Teknologi tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh, justru menjadi kebutuhan primer. Tanpa teknologi, alat komunikasi, kehidupan ini seakan sudah mati. Bukan hanya teknologi, makanan, kebutuhan sehari-hari, hampir semua dapat segera diselesaikan dengan cara instan dan cepat.
Begitu banyak manfaat yang kita ambil dari kemajuan zaman ini. Kita tak perlu lagi bersusah payah ke wartel jika ingin mendengar atau sekedar berbincang dengan handai taulan yang jauh berada di negeri seberang. Tak perlu lagi selalu menunggu pak pos untuk membaca kabar terkini diluar sana. Semua serba cepat. Namun disisi lain, tak bisa kita pungkiri adanya dampak buruk dari kemajuan peradaban manusia saat ini. Dimana terknologi bukan ditempatkan sebagai sarana perbaikan masyarakat, justru menjadi alat yang hebat untuk meluluhlantakkan kemuliaan martabat manusia.
Kebanyakan orang hanya berfikir untuk kebaikan dirinya sendiri, bertindak menurut apa yang dianggapnya benar, atau bersikap untuk cenderung merasa nyaman dengan kehidupan pribadinya. Terutama generasi muda. Dengan segala fasilitas yang bisa dinikmatinya.
Tulisan ini dibuat bukan untuk menyalahkan sikap, karena penulis pun tak lepas dari kesalahan ketika menyikapi suatu keadaan. Hanya saja, mari kita revisi ulang bagaimana seharusnya generasi muslim berfikir. Apa yang harusnya menjadi prioritas dalam menjalani kehidupan ini agar bermakna.
Kehidupan kita di dunia tak akan lama, tentu sudah menjadi rahasia umum. Sehingga akan aneh jika masih ada diantara sobat muda yang tidak menyadari hal ini. Tak akan lama, karena waktu hidup manusia rata-rata tak lebih dari 100 tahun. Bisa hidup lebih dari 60 tahun saja sudah dianggap tua. Sesuatu yang wajar, bukan?
Tapi memang bukan disitu intinya, yang ingin ku sampaikan adalah bahwa kehidupan manusia yang “sebentar” itu akan membawa konsekwensi untuk kehidupan kita berikutnya. Karena perjalanan hidup manusia tak terhenti didunia, tapi masih ada kehidupan akhirat yang menanti kita di babak selanjutnya. Baik buruknya kehidupan kita selanjunya adalah tergantung amal kita di dunia. Nah, sekarang adalah pilihan bagi kita, mau menikmati kehidupan selanjutnya yang seperti apa?
Eits,, ingat..!!!
Babak kehidupan selanjutnya akan jauh lebih panjang dari kehidupan saat ini. Ibaratnya adalah perbandingan antara satu titik dan satu garis panjang, yang ujungnya kita tak pernah tau. Satu titik itulah kehidupan manusia di dunia. Dan garis panjang itulah kehidupan kita di babak selanjutnya. Dimana kehidupan yang panjang itu akan kita jalani sebagai konsekwensi amal kita dalam kehidupan di babak ini. Bayangkan saja, jika satu titik itu..katakanlah 70 tahun(usia hidup di dunia), lalu berapa lama kehidupan akhirat nanti? Bisa jadi 10x lipat=700 tahun, 100x= 7000 tahun?? Kita kan menikmati hasil hidup kita. Jika amal kebaikan yang banyak kita lakukan, balasan dari kebaikan itulah yang akan banyak pula kita rasakan disana, begitu pun sebaliknya.
Lau apa yang harus dilakukan untuk itu?
Jika ingin menikmati kehidupan akhirat yang nyaman, tanpa diganggu syetan, bertetangga dengan para Nabi dan Rasul, lebih dekat dengan sosok Yusuf ‘alaihissalam, atau mendengar langsung tentang kisah fathul makkah dari para sahabat utama Rasulullah, menikmati buah dan banyak makanan surgawi, atau minum susu dari telaga kautsar…??tentu semua itu hanya kan menjadi bayangan indah bagi sebagian orang saja, yaitu mereka yang memelihara diri dalam keimanan.
Maka konsekwensi hidup didunia memang tak mudah, tapi cukup sederhana. Kita hanya perlu menuruti apa yang Allah mau dari kita. Pertanyaan selanjunya pasti: bagaimana caranya?? Ehm…bukankah Allah telah turunkan pedoman untuk setiap langkah hidup kita di dunia? Ya,,harus kita pahami Al Qur’an dan SunnahNya. Menjadi seseorang yang idealis dan realistis dengan keadaan. Tidak mudah, memang. Tapi bukan berarti mustahil dilakukan. Kita hanya perlu terus mempertahankan iman dalam hati dan terus memperbaiki diri. Berilmu dan beramal, tentu saja.
Tapi jika kehidupan sebaliknya yang antum inginkan, maka antum tak terikat aturan apapun di dunia ini. Cukup lakukan apa yang ingin antum lakukan, tanpa pedoman, bahkan tak perlu landasan keimanan. Na’udzubillah min dzalik.
Bukankah jauh lebih indah jika kita menikmati hidup sesuai tuntunanNya??
Meridhai Allah sebagai Tuhan, islam sebagai agama dan Rasulullah sebagai utusanNya
Berarti siap menjalani segala konsekwensi aturanNya..
Wallahu a’lam,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: