Dalam beberapa hadits, manusia terbaik disebutkan dengan beberapa karakter yang berbeda. Diantaranya adalah:

Pertama,
“Khairukum man ta’allamal Qur’an wa’allamahu”
“orang yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”
Mempelajari Al-Qur’an, kitab cintaNya yang mulia. Pedoman hidup kita. Petunjuk kebenaran, pembeda kebaikan dan keburukan. Penjelas antara yang haram dan halal. Ah, ya… akan sia-sia jika kita tak mempelajarinya dengan benar. Akan percuma jika kita asal-asalan membacanya. Maka pantas, jika gelar manusia terbaik disandangkan pada mereka yang mau mempelajari dan mengajarkannya.

Kedua,
“Man yuridillahu khairan yufaqqihhu fid diin”
“Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi manusia terbaik, Dia akan memahamkannya dalam urusan agama”
Tentu bukan orang sembarangan, sehingga Allah berkenan memahamkannya dalam urusan agama.
Lalu bagaimana kita bisa menjadi salah satunya??
Entahlah, ana memang belum belajar benyak tentang tafsir hadits. Namun sepertinya bukan prestasi dunia yang menjadikan seseorang dimuliakan oleh Allah. Ditinggikan kedudukannya dihadapan manusia lainnya. Bukan pula karena harta, jabatan, atau gelar semata. Allah selalu memilih orang yang tepat, yaitu yang mencintaiNya, dengan sebenar-benar cinta. Semoga kita termasuk golongan mereka yang selalu berusaha mencintaiNya dengan segenap asa.

Ketiga,
“Khairunnas anfa’uhum linnaas”
“sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”
Egoisme seringkali mempersulit kita melakukannya. Ya, memang nafsu manusia tiada akhirnya. Tapi semoga setiap langkah kita selalu berusaha, memberi manfaat pada manusia lain. Meski mungkin tak selalu perlakuan baik yang akhirnya kita terima, ikhlaskan saja. Cukup Allah menjadi tujuan kita. Pamrih pada manusia akan percuma adanya. Karena balasan yang manusia beri hanya tak seberapa, dibanding yang Allah punya. Dan kita tau, Allah selalu menilai kadar keikhlasan kita.

maka harapku tak pernah sirna.. kita bersama melangkah, dan terus berusaha menjadi manusia-manusia terbaik

Oleh: muda99 | 31/05/2011

Jika Benar Cinta

Cinta, tak ada yang tau kesudahan nasibnya………
Karena esok adalah rahasia,
Karena dunia hanya sementara
Karena semua ini ujian semata…
Manusia hanya bisa merasa.. lalu berencana, tapi tidak untuk memastikan dengan kehendaknya.
Sobat muda,
Jika benar cinta itu karena Allah
Maka kau akan utamakan melihat bagaimana ia menerapkan ilmu agama nya
Sebelum kau perhatikan fisik, harta, atau keturunanya
Jika benar cinta itu karena Allah
Maka kau akan menjaga kehormatannya sebagai pemeluk iman yang sama
Kau tak akan menyentuhnya sebelum ikatan menghalalkan hubungan yang haram sebelumnya
Kau tak akan mendahului orangtua ketika meminta izin menikah dengannya
Kau tak akan membiarkannya mengumbar aurat sebelum kau sendiri berhak atasnya
Kau tak akan tunduk dalam berbicara dengannya
Sehingga syetan berkesempatan menebarkan nafsu diantara kata yang mengudara
Jika benar cinta itu bukan di dominasi nafsu dunia
Kau akan meraihnya dengan cara yang ditetapkan Allah untuk meraihnya
Kau akan menjaga hati dan iman selalu dalam waktu bersamaan
Kau hanya melakukan dan mengatakan segalanya dalam penuh kesadaran
Bahwa Allah memperhatikan segala perbuatan
Ya shahibati al mahbubat
Ku tahu benar kita hanya manusia biasa yang jauh dari sempurna
Tapi ku mohon..
Jangan biarkan ketidaksempurnaan itu menjadi celah syetan menyeret kita kejalannya
Mari kita saling menjaga dalam iman
Dalam keta’atan menerapkan syari’at
Karena pernikahan adalah janji yang kuat dihadapan Allah
Tidak hanya untuk satu atau dua hari, tapi selama iman tertanam dalam hati
Tidak hanya menyatukan dua hati, tapi juga dua family
Maka pilihan akan orang yang tepat
Menjadi penting, jauh lebih penting dari nafsu yang indahnya hanya sesaat
Pertimbangkan kefaqihan agamanya, bukan karena apa atau siapa
Tapi memang kehidupan kita membutuhkannya
Jika benar ridha Allah yang jadi tujuan kita
Dalam menapaki setiap kejadian yang harus kita hadapi
Jangan biarkan dunia menipu kita dengan gemerlapnya,
Wanita dan lelaki dicipta memang berbeda,
Tapi dengan maksud yang sama, mengabdi pada satu pencipta
Cinta yang pertama untuk Allah
Dan yang selanjutnya biar terjadi atas izin Allah
Jika kadang tanpa rencana kita harus terjatuh, dan merasakan sakitnya cinta.
Tapi jangan lupa, yang Allah mau kita selalu kembali padaNya.
Ikhlas, sabar, dan tawakkal
Disertai ikhtiyar yang maksimal
Maka tak ada yang tak mungkin dalam kehendakNya
Dan bahagia kan jadi nyata,
Maka tunggu saja saatnya tiba

www.sobatmudamuslim.wordpress.com

Oleh: muda99 | 03/04/2011

Memilih Atas Dasar “iman”

Sobat muda yang se”iman”… semoga kasih sayang Allah tak putus untuk kita semua.
Disetiap detak kehidupan, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Di setiap persimpangan jalan, kita harus jeli menentukan, jalan mana yang akan membawa kita ketempat tujuan dengan selamat, dan kalau bisa: cepat.
Di setiap kebimbangan, kita dihadapkan pada persoalan mana yang terbaik akibatnya untuk kita. Bahkan tak jarang pilihan-pilihan itu menuntut akibat yang tidak hanya melibatkan kita secara pribadi. Tapi juga akan berakibat pada agama, keluarga, kesudahan setiap urusan kita, sahabat, atau mereka yang tidak kita sangka.. bisa saja terkena imbas dari pilihan yang kita ambil.
Dan pilihan-pilihan itulah yang akan menuntun kita kepada pilihan-pilihan berikutnya (‘afwan kalau bahasanya rada ribet, maklum..bukan ahli bahasa)
Ya, dan ketika pilihan itu di tangan kita.. maka sepenuhnya hak kita untuk memutuskan dalam ucap dan sikap. Harusnya pilihan terbaik yang kita ambil. Yaitu pilihan terbaik untuk semua, untuk agama, kesudahan setiap urusan kita, juga untuk keluarga dan mereka yang terlibat dalam urusan kita.
Lalu, bagaimana merealisasikannya?? Kali ini ana ingin sharing sedikit.. berbagi ilmu dengan sobat muda semua. Jika ada yang salah dari apa yang ana sampaikan, tolong di koreksi. Dan jika ada yang kurang.. ana sangat berbahagia jika sobat muda ada yang mau menambahnya.
Yang pertama adalah tenang. Karena perkara yang diputuskan dalam ketergesaan dan tanpa pikir panjang cenderung kurang baik akibatnya. Bukan berarti kita tak boleh berfikir strategis. Ini dalam konteks yang berbeda, apapun keadaannya, usahakan tetap tenang. Mengambil keputusan dalam waktu cepat pun harus dengan tenang, karena kepanikan kita bisa saja semakin mengacaukan suasana.
Yang kedua, sertakan Allah dalam setiap urusan kita. Pilihan-pilihan yang kita hadapi saat bahagia maupun susah, itu datangnya dari Allah. Maka sebaiknya kita sertakan peran iman kita. Sesuai dengan pemahaman kita akan ilmuNya. Karena hanya dengan berpegang teguh pada kitab Allah& sunnah rasulNya, kita akan selamat di dunia,.. juga akhirat nantinya.
Hal kedua inilah yang ingin ana bicarakan kali ini, tentang memilih dengan iman.
Iman adalah apa-apa yang kita yakini dalam hati, diucapkan oleh lisan, dan tampak nyata dalam perbuatan. Yup, itu kita sering mendengarnya sejak masa kanak-kanak. Tapi sudahkah kita beriman dalam setiap perkara yang kita hadapi? Tentu masing-masing pribadi dan Allah saja yang tau.
Indikasi yang paling mudah untuk menilainya, ada ketika berhadapan dengan beberapa pilihan, kita bisa manjawab tanya pada diri sendiri “apakah kita fikirkan akibat dari perkara yang kita hadapi untuk agama kita? Untuk kualitas ibadah kita? Untuk akhirat kita?”
Jika jawabannya adalah “ya”, maka pertanyaan selanjutnya adalah “sejauh apa akibat dari pilihan kita itu untuk agama kita? Untuk kualitas ibadah kita? Semakin baik, atau burukkah?”
Ehm,, bukan maksud ana menghakimi. Tapi setiap pribadi muslim sudah seharusnya sering melakukan introspeksi diri. Tentu saja untuk menjaga iman, kehormatan diri sebagai hamba yang beriman, juga untuk kesudahan setiap urusan kita nantinya.
Bukan hanya keluarga, kepentingan kita di dunia, atau nafsu semata yang seharusnya jadi prioritas pilihan kita. Tapi jauh lebih penting dari itu adalah kepentingan agama. Karena dengannya, kita bisa tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia hanya perantara yang fana.
Contoh sederhana ada ketika menghadapi ujian, kita dihadapkan pada pilihan mengerjakan soal sendiri atau mencontek? Toh yang dicontekin juga mau.. disisi lain itu berarti kita tak percaya pada kemampuan diri sendiri&upaya kita belajar selama ini. Atau tetap mengerjakan sendiri, appaun hasilnya nanti? Hayo..pilih mana??
Misal lagi, di waktu senggang.. apa yang antum pilih untuk mengisinya? Maen game? Menghubungi “teman dekat”? membaca buku? Mencari kesenangan? Tilawah? Hafalan ayat-ayat al-Qur’an? Atau..membiarkannya berlalu begitu saja??
Saat antum marah, apa yang antum pilih? Diam? Melampiaskan pada orang lain? Membanting barang?
Ketika berkomuniaksi dengan seseorang yang “special”.. antum gunakan panggilan mesra yang menurut Allah kita belum berhak atasnya, atau ikuti nafsu saja?
Atau jika antum seorang lelaki, ketika dihadapkan pilihan beberapa gadis untuk dijadikan istri.. kualifikasi apa yang antum prioritaskan untuk memilih yang terbaik diantara mereka?? Skill? Fisik?? Keanggunan?? Kekayaan? Keturunan? Cinta? Atau kefaqihan agamanya??
Hmm… kalau ini rasanya ana sudah pernah menyampaikan kepada sobat muda semua.. tentang VMJ, selengkapnya boleh di review di blog.
Dan jika antum seorang wanita.. ketika menghadapi “beberapa kandidat calon suami” sekaligus, bagaimana menyeleksi mereka dan yakin bahwa salah satunya adalah yang terbaik? Apakah berdasarkan siapa yang pertama mengajukan lamaran, pemahaman agamanya, pertimbangan kemantapan hati, pertimbangan orang tua, berdasarkan penghasilan mereka, atau karena cinta?? Toh tak seorangpun sempurna.. hehe, untuk ini antum perlu shalat istikhoroh ya ukhti..
Yang terpenting, untuk memilih berdasarkan iman.. kita perlu memahami apa yang Allah gariskan untuk perkara tersebut. Tentu saja kita harus kembali pada Al-Qur’an dan sunnah. Bukan perkara sulit, kan? Karena hanya dengan berpegang pada keduanya, kehidupan kita di dunia akan selamat.
Ah, semoga kita semua selalu dibimbing oleh Allah dalam menentukan dan memilih setiap yang terbaik untuk agama dan kesudahan setiap urusan kita. Untuk itu kita perlu selalu menjaga hubungan baik dengan Allah, supaya tidak lepas kendali dan memilih bukan yang terbaik.
Lewat shalat tahajjud, kita bisa berkhalwat dengan Allah…. Menyampaikan segala perkara dan memohon dengan segala do’a.
Lewat dzikir, kita bisa terus merasa dekat dengan Allah sehingga malu rasanya jika bermaksiat dihadapanNya.
Lewat istikhoroh, kita bisa memohon petunjuk untuk memilih perkara yang paling diridhaiNya,
juga amalan sunnah lainnya.. akan memperindah dan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah.
Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya? Ketika kita jauh, maka jangan terlalu berharap Allah selalu ada untuk kita. Tapi layaknya kekasih, jika kita terus mendekat, maka keyakinan bahwa Allah dekat akan selalu menguatkan kita, apapun yang harus kita hadapi.
Wallahu a’lamu bi as shawab..
Oleh: muda99 | 20/03/2011

Dunia yang penuh dengan cahaya iman.

Jika seorang laki-laki shalih dapat menerangi dunia disekitarnya dengan cahaya iman, maka akan kita dapati dunia kita akan benderang dengan cahaya iman ketika jumlah ikhwan shalih semakin banyak…
Jika sebuah rumah hanya akan terang ketika terdapat cahaya iman dari seorang wanita shalihah di dalamnya, maka kita perlu minimal 500 wanita shalihah untuk 500 rumah , semakin banyak pasti akan semakin benderang dunia kita dengan cahaya iman.
Itu berarti kita butuh jutaan, bahkan milyaran pribadi shalih untuk menjadikan dunia kita dipenuhi cahaya iman dimanapun kita berada..
Namun semua itu hanya mimpi, jika kita hanya mengharapkan saudara, sahabat, atau anggota keluarga kita menjadi pribadi yang shalih&shalihah. Tanpa kita berusaha sendiri untuk menjadi pribadi yang dicintai Allah dengan menshalihkan diri sendiri, lalu menjadikan orangorang disekitar kita, baik yang menyayangi kita dan kita sayangi, maupun mereka yang membenci kita atau kita benci.. untuk juga menjadi pribadi yang shalih..
Bukankah dunia yang dipenuhi dengan cahaya iman adalah sebuah mimpi indah?
Mimpi indah yang butuh perjuangan kita untuk membuatnya jadi nyata. Maka berhentilah mencari perbedaan dengan saudar seiman, lalu mulailah berfikir jauh kedepan, untuk menjadikan dunia kita dipenuhi cahaya iman.
• •
“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al A’raaf: 96)

Allahu Akbar!!!
Mungkinkah segala kekacauan yang ada di dunia akhir-akhir ini adalah akibat perbuatan manusa sendiri??
Wallahu a’lam bi assahawab..
Mari kita terus berusaha menshalihkan diri, dan menjadikan orang lain shalih, agar mimpi indah tiu segera jadi nyata.

Oleh: muda99 | 20/03/2011

Cinta Karena Allah

Cinta, bahasan yang tak jarang membuat pipi bersemu merah.. dan dada terasa berdegup kencang. Bahasan yang sering membuat menusia lupa, kepada siapa harusnya merealisasikannya. Dan kali ini, ana hanya sekedar ingin mengajak sobat muda semua bermuhasabah, membahas kepada siapa dan bagaimana harusnya cinta mengejewantah.
Mungkin diantara kita pernah mendapat pertanyaan : siapa yang paling engkau cintai?
Tentu jawabannya beragam: diri sendiri? Orang tua, keluarga? Seseorang yang sangat istimewa? Ah, tetap saja… sepertinya jawaban yang paling indah adalah : Aku mencintai Allah dan RasulNya, lebih dari segalanya, dan aku mencintai yang lain hanya karena Allah semata.
Ya, Allah dan RasulNya yang utama.
Ada yang keberatan??
Atau, ada pilihan lain??
Sepertinya memang itulah jawaban paling tepat. Mencintai Allah dan RasulNya, lebih dari segalanya. Tak ada seorangpun yang lebih berhak mendapatkan cinta kita selain mereka. Karena jika ada, betapa keterlaluannya kita?? Menomor sekiankan Allah dan RasulNya… padahal terlalu banyak bukti cinta Allah dan RasulNya untuk kita. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Astaghfirullah…
Semoga kita tak termasuk hamba yang kufur ni’mat.
Maaf sobat, jika bahasan tentang cinta kali ini tak berhasil meronakan pipi dan membuat dada berdebar. . .
Karena bahasan ini sebenarnya tak kan cukup dibahas dalam satu artikel, maka jika nanti ada yang kurang atau perlu ditanyakan, silahkan mengirim pesan.
Ana hanya berharap kali ini kita setuju, untuk bersama-sama mengutamakan cinta kepada Allah dan RasulNya. Karena ana juga berharap kita bisa sepakat, bahwa sobat muda muslim adalah generasi muslim yang tidak cengeng dan sedang berproses untuk terus memperbaiki diri, menjadi hamba illahi yang sejati.
Mari kita renungkan sebuah ayat:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At Taubah: 24)

Dalam rangkaian ayat tersebut tersirat makna, betapa indah Allah mengungkapkan kecemburuanNya. Allah tak rela jika kita mengutamakan duniawi melebihi Allah dan RasulNya. Itulah cinta. Tentang ketidakrelaan. Tentang kasih sayang. Tentang prioritas. Ah, soal cinta mungkin sobat muda lebih paham dari ana.:-)
Dan bagaimana merealisasikannya?
Mencintai Allah dan RasulNya memang bukan perkara mudah, tapi sepertinya juga tidak terlalu sulit. Buktinya, para salafus shalih bisa. Maka tak ada alasan bagi kita untu berkata tidak bisa.
Para salafus shalih, mereka generasi awal pemeluk ajaran ini. Rela meninggalkan harta benda, limpahan kasih keluarga, bahkan status kebangsawanan demi satu muara : Allah dan RasulNya.
Kita bisa membaca lebih banyak kisah tentang mereka di kitab-kitab shirah sahabat&shahabiyah, salah satu kata kuncinya adalah keikhlasan. Untuk menerima sepenuh hati aturan yang Allah&RasulNya gariskan. Sudahkah kita??
Sobat muda muslim yang kucintai karena Allah,
Mengutamakan untuk mencintai Allah&RasulNya bukan berarti kita tak boleh ada perasaan lebih pada keluarga, sahabat, atau mungkin benda-benda berharga. Karena fitrah kita adalah manusia, yang memang begini adanya. Tapi janganlah kecintaan kita terhadap harta, orangtua, atau siapapun dia, melebihi cinta kita kepada Allah&RasulNya. Atau Allah akan mendatangkan keputusanNya.
Tentu kita tak lupa tentang kisah yang menceritakan masa akhir kehidupan Rasulullah SAW, beliau terus menyebut-nyebut ummati…. Ummati… ummati,….ketika sakaratul maut menjelang, Karena rasa cinta dan kekhawatiran beliau kepada kita semua, ummatnya, jika beliau tiada. Meski beliau tahu, Allah telah menjanjikan banyak kemudahan bagi ummatnya.
Kasih kita kepada keluarga, atau sahabat tercinta, tak seharusnya melalaikan kita dari mengingat Allah. Dimanapun dan kapanpun. Karena beberapa alasan, diantaranya:
1. Allah dan RasulNya lebih mencintai kita daripada mereka, terlalu banyak bukti yang tak pantas kita nafikan untuk itu.
2. Allah dan RasulNya_lah yang menyelamatkan kehidupan kita di dunia ini, ketika kita menaati peraturan yang telah digariskan. Sedangkan keluarga, atau kerabat lainnya tidak lebih tau dari Allah dan RasulNya tentang segala yang terbaik untuk kehidupan kita.
3. Allah yang memberi kita kehidupan, dan pada akhirnya, hanya kepada Allah dan RasulNya kita kembali, mempertanggungjawabkan segala amal yang telah kita pilih sendiri dalam menjalani kehidupan ini. Kita tak perlu mempertanggungjawabkan kehidupan kita pada selain Allah, bukan?
4. Fabi ayyi alaa i rabbikumaa tukadzibaan, maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?(Q.S.55:13)

Sobat muda yang disayang Allah,
Mencintai karena Allah berarti kita menyandarkan sepenuhnya rasa cinta itu kepada ketetapan Allah, berarti kita mencintai dengan cara yang ditetapkan Allah, dan hanya untuk mencari ridha Allah. Jika apa yang kita cintai menjadikan kita menjauh dari Allah, maka sesungguhnya Allah telah jelas menunjukkan kepada kita, bagaimana harusnya kita memilih untuk mengambil setiap langkah dalam kehidupan kita. Atau kita harus menunggu sampai Allah mendatangkan keputusanNya??
Ya, itu berarti kita sepenuhnya tunduk pada aturan Allah dalam menjalani rasa cinta itu sobat muda…. Jika Allah melarang kita untuk mendekati zina, maka tak sepantasnya kita mendekatinya, dengan cara apapun. Jika Allah dan RasulNya menetapkan nikah sebagai salah satu sunnahNya, maka sepantasnya kita mengikutinya. Tentu mengikuti sunnah tanpa harus melanggar aturanNya, bukan?
ya, itulah pilihan ketika kita sedang berproses menjadi hamba yang bertaqwa.
Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk melakukan sesuatu, dan mari kita coba bagaimana Allah menunjukkan kepada kita, bagaimana harusnya memilih:
• •
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (Q.S. Al An’am: 153)
Sobat, jika tidak mulai sekarang kita mulai untuk terus berusaha menaati Allah dan Rasul Nya, lalu kapan lagi? Kita tak pernah tau dimana batas umur kita. Entah masih lama, satu tahun lagi, satu bulan lagi, atau, satu hari lagi Allah menetapkannya? Setidaknya dengan terus berusaha untuk istiqomah, jalinan cinta kita dengan Allah akan semakin terasa indahnya.
Wallahu a’lamu bi as shawaab

Oleh: muda99 | 02/12/2010

Sahabat Dan Perasaanku

“Sahabat”

Sejenak bersama

Mengobati kemelut rindu

Berbagi cerita perihal hidup

Bertukar kunci pembuka risalah hati

Tak ingin berpisah

Walau dalam hitungan detik

Karena kelemahan

Karena ketakutan

Karena kebimbangan

Bila jauh darimu

Maafkan inginku

Mencuri waktu luangmu

Karena akan sakit

Karena terus menjerit

Tanpa hadirmu

Disisiku

Wahai penenang hatiku

Wahai sahabat hatiku

Perjelas langkahku

Agar tak tersesat lagi                                                               Pukan-16 juni 2005-

Puisi diatas kuterima dari seorang sahabat ketika menjalani hari-hari di bangku kelas 2 SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Sebenarnya itu adalah rangkuman perjalanan kisah yang kami alami, dari pertemuan biasa hingga menjadi sangat berarti seperti sekarang ini. Dalam puisi itu jelas tertanam nilai harapan, mengungkap tentang rasa, denyut kasih, perasaan haru dan sepercik prasangka lebih dari sahabat.

Sewaktu SMA aku bukanlah siswa yang terlalu istimewa. Tak begitu terbelakang juga, se-sekali meraih juara kelas dan melambungkan namaku sesaat. Awal mengenalnya seperti halnya perkenalan teman baru pada umumnya, kaku dan seperlunya. Lambat laun perasaan itu mencair, mungkin karena gejolak remaja kami yang terlalu berekspresi, layaknya masa-masa remaja pada umumnya. Sifat asli kami yang sama-sama pendiam tak berlaku kalau si Ucup lagi keluar banyolan gilanya, apalagi kalau boim muncul dengan ke-PeDe-anya yang tak berujung. Mereka adalah teman-teman setia yang selalu mewarnai hari-hari kami di SMA ini.

Sebenarnya kami mulai saling mengenal ketika sama-sama tergabung dalam ekskul Hizbul Wathan dan akrab dengan nama angkatan “HW SMAM 1 JOE GEN’06” yang beranggotakan 11 personel. Setiap hari, selalu ada pertemuan penuh banyolan ringan yang tak jarang meruncing menjadi olokan khas anak SD, atau sekedar ngomongin guru dan senior yang keterlaluan pada hari itu. Kalau lagi serius kami bisa saling curhat blak-blakan hingga persahabatan ini mengalir begitu alamiah.

Secara pribadi kami sering berkirim surat walau hanya terpisah tembok kelas. Untuk menjaga privasi ia membuat bahasa sandi khusus, hanya kami berdua yang tau. Kadang komunikasi melalui telepon rumah, karena HP belum menjamur seperti sekarang. Meski secara pribadi aku punya masalah keluarga yang cukup menjadi beban hari-hariku, ia selalu mampu membuatku bertahan dan terus meyakinkan bahwa aku pasti bisa melalui setiap cobaan hidup yang harus ku hadapi.

Setiap hari, agenda yang jarang terlewatkan adalah bertukar surat kala istirahat menjelang. Duduk di kelas yang berbeda, justru semakin menginspirasi banyak cerita yang ingin dibagi. Ah, seperti tidak ketemu setahun saja. Kebiasaan aneh dan kami menikmatinya sekitar dua tahun terakhir kami di SMA.

Begitu istimewanya hingga rasa itu tercipta begitu saja, ia yang lebih dahulu menyadarinya. Ungkapan dalam secarik puisi, kepedulian, juga pandangan mata. Ku akui aku pun menikmatinya. Bagaimana tidak, naluriku pun secara alami beranjak dewasa dan mulai merasakan hal berbeda akan kerinduan Adam. Perlahan rasa itu singgah menelusupi relung hatiku. Yang sedikit ku pahami adalah keakraban ini selalu bisa membuat ku memenangkan hari ini dan mungkin esok, dan itu sudah cukup berarti buatku.

Bukan berarti setelah itu ada istilah menyatakan cinta dan kami jadian…

Kami tau kedekatan ini memiliki sekat, aku dan dia tak pernah sengaja untuk jalan berdua atau senda gurau yang tak ada ujungnya. Apalagi melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Kebetulan dia seorang yang faqih, karena ia sudah mulai mengenal dunia da’wah dan aktif mengaji. Meski ia juga tak selalu mampu menolak ajakan bolos temen-temen yang lain, dan kalau lagi berkeinginan hiking, baginya semua angka dalam kalender bisa jadi merah.

Sejak awal kami bersahabat, kami mencoba komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Ya, kami hanya berusaha untuk istiqomah. Kebersamaan kami hanya sebatas suara telepon, tulisan, atau ketika berkumpul dengan teman-teman yang lain. Meski adakalanya ingin berbuat lebih, kami beruntung tak memiliki kesempatan untuk itu.

Ia sering mengingatkan untuk shalat tepat waktu, juga menyempurnakan kerudung untuk menutup aurat. Ia yang menegurku untuk tidak lagi menggunakan parfum karena dalam hukum Islam memang melarangnya, atau muslimah itu sama dengan pezina. Na’udzubillah…

Namun dua tahun masa kedekatan kami tak cukup untuk membuat kami benar-benar menyadari perasaan masing-masing. Sejujurnya, kadang terbesit inginku menikmati masa remaja layaknya teman-teman yang lain, mengenal lawan jenis lebih jauh dan menjalin ikatan pacaran, meski niat itu tak pernah ku realisasikan. Aku hanya menganggapnya tak lebih dari seorang teman yang sangat baik, yang selalu ku harap bisa menjadi sahabat sejati. Ya, ia memang baik kurasa..

Kebetulan kala itu beberapa teman perempuan pun ngefans, bahkan ada yang sangat menyukai sahabatku ini. Aku tak ingin memperketat persaingan antara mereka, karena sudah pasti akulah pemenangnya. J

Kala itu aku memang sudah mendengar bahwa pacaran dilarang dalam Islam, sekolahku yang notabene agama pun mendukung itu. Namun sejujurnya aku belum benar-benar menerimanya. Ku pikir, apa salahnya mengenal lawan jenis lebih dekat sebelum menikah? Selama bisa saling menjaga diri, bukankah itu juga baik?

Ya, tak secara penuh aku mengenal Islam. Sekolah ini membuat ku banyak berubah, termasuk ekskul kepanduan HW yang secara aktif ku ikuti. Hizbul Wathan (HW) merupakan kepanduan yang kegiatannya mirip dengan pramuka, namun secara ideologi tetap berbeda karena HW mengutamakan nilai-nilai islam dalam setiap kegiatannya. Sibuknya jadwal latihan, sering lembur di sekolah dan menjadi panitia kegiatan karena kami juga anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah, atau lebih di kenal sebagai OSIS di sekolah lain, cukup banyak memberikan kami pengalaman dan melapangkan langkah kami di jalan agama ini.Ikatan batin persahabatan ini pun terbentuk bersama teman-teman lainnya, dan paling sepesial dengan sahabat yang tadi ku ceritakan. Ehm,

Semua sahabat yang ku kenal memang baik, tetapi ada perasaan berbeda dengan sahabat “spesial” ku. Bagaimanapun, ia yang paling mengertiku dari yang lain, begitu sebaliknya. Teman-teman yang lain pun memaklumi kedekatan kami. Sampai sehari sebelum ujian akhir, ia kerumah dengan membawa surat untukku. Seingatku 15 mei 2006 sore hari. Rupanya surat itu balasan dari pertanyaanku tentang siapa orang yang disayanginya dan siapakah orang berhak kita benci, beberapa hari sebelumnya. Ia menulis:

Perlukah kamu tahu, siapa orang yang paling ku sayangi. Dan orang yang berhak aku benci.

Aku bukanlah penciptamu yang selalu tahu kamu, tapi kita memiliki kesamaan, berasal dari satu pencipta. Dan bila titik itu dapat menghambat ceritamu, tentulah titik itu berupa jarak pemisah hingga kamu tak mampu menceritakannya pada yang kamu harapkan mendengar.

Orang yang ku sayangi adalah orang yang memberikan arti kebaikan dalam hidupku. Entah itu musuh ataupun sahabatku. Karena sahabat tak selalu setia dan musuh tak mustahil jadi sahabat. Walaupun terkadang aku mengungkiri karena terbias emosi sesaat.

Kebencianku pada seseorang akan membara saat emosiku tak terkendali, naik pitam dan rasio tak mempu mengendalikan aku. Kebencian itu ada saat luka merajam ragaku. Meski berangsur sembuh namun bekas itu akan selalu ada. Kamu paling tahu aku dari sahabat yang lain. Saat aku ketawa, nangis, murung, marah, sering kamu damping aku melipur laraku.

Saat ini kamu termasuk orang yang aku sayangi. Dan aku harap sayang itu akan selalu ada tanpa ternodai bekas luka. Aku sendiri bimbang antara kekaguman dan apakah harus saling memiliki ataupun hanya sebatas persahabatan sayang itu tumbuh. Saat ingin aku miliki kamu untuk selamanya ada jiwaku membisikkan bukanlah kamu yang harus ada disisiku. Saat persahabatan bergejolak terlampau jauh ingin aku bersamamu untuk selamanya. Tapi biarlah rasa itu. Setelah UAN kita tidak bisa ketemu seperti biasa lagi. Untuk itu kan udah ada yang ngatur.

Maaf, maaf, sekali lagi maaf. Rasa itu terlanjur ada. Dan mungkinkah itu salahku karena aku juga tak merencanakan itu. Bila memang pertemuan ini bagimu sangat berarti dan seperti yang kamu harapkan aku menjadi begian pembimbingmu, maka semua masa indah saat awal aku kenal kamu dan nanti kelak tiba perpisahan kita adalah suatu kebaikan.

Walaupun terkadang berupa materi, tapi ku harap berarti. Dan bila itu dari jiwa, tulus ikhlas aku merelakannya. Aku ingin kamu jadi wanita paling bahagia di dunia begitu pula dengan pendampingku nanti. Juga ibuku.

Aku minta maaf terkadang aku kurang ngerti kamu. Sering buat kamu sakit hati, penasaran, gelisah, bahkan buat kamu nangis. Mulai saat ini aku sarankan bersiap-siaplah untuk bisa hidup sendiri. Raih bahagiamu. Kamu bisa berencana, kamu yang menjalankan, dan kamu yang menikmati. Bila nanti saat bahagiamu telah tiba undang aku sebagai saksi. Biarkan air mataku mengalir lagi dan kali ini dalam bahagia.

Ungkapkan semua rasamu tentangku, semua, kalau kamu percaya aku sampai tak bersisa. Dariku tiada rasa lagi yang aku pendam. Nggak ada beban lagi dan aku udah siap meraih masa depanku. Untukmu kiranya telah layak aku ucapkan perpisahan karena aku berharap pada pertemuan. Jangan air mata menetes lagi seakan-akan kisah kita berakhir di sini. Maafkan aku telah mencintaimu, maafkan aku pernah menyakitimu. Pertemuan ini ada karena telah terencana sempurna.

Walaupun kata itu resah di dengar

Namun di ujung perjalanan

Tak luput terucap jua

Perpisahan

Hanya kerelaan

Iringi indahnya kenangan

Ehm, kata-kata itulah yang pada masa selanjutnya membuatku benar-benar berfikir dan bertanya pada diri sendiri tentang perasaanku kepadanya. Tidak ada pernyataan cinta, tidak ada kepastian hubungan, sedang perasaanku sendiri belum benar-benar ku pahami. Akhirnya ku katakan saja untuk melihat 4-5 tahun kedepan. Jika rasa itu sejati dan kita bisa menyatukan langkah dengan ikatan yang teguh, maka semoga kita menjadi yang terbaik satu sama lain. Dan jika tidak, semoga ikhlas kita tak lagi terbelenggu nafsu. Yang terbaik telah Allah SWT siapkan untuk setiap langkah yang kita tempuh.

Memang, tak lagi ada pertemuan setiap hari, sapaan, bahkan kabar. Karena aku melanjutkan kuliah di STEI Hamfara Yogyakarta yang harus ditempuh sekitar 7 jam perjalanan. Mau tak mau akupun jarang pulang. Sedangkan ia, setelah melalui perjuangan yang berat berhasil juga masuk pendidikan militer untuk bintara AD.

Sementara dunia kuliah tak jarang mengusik egoku untuk disayangi dan berpacaran. Apalagi kesempatan untuk itu tak benar-benar tertutup di lingkungan kuliah. Ketidakhadiran sahabat disisi membuatku merasa kehilangan, dan berhasil membuatku semakin menyadari arti dirinya selama ini.

Sampai suatu hari aku membaca buku berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Ust. Salim A. Fillah. Benar-benar menginspirasi dan memotivasiku untuk meneguhkan niat untuk tidak pacaran sebelum menikah. Buku itu juga yang membuatku meneguhkan langkah hanya di jalan agamaNya, remaja muslim rugi deh kalau belum baca. Karena lewat buku itu, aku baru tahu bahwa pacaran bukan diharamkan karena hukum asal dari pacaran itu sendiri, tapi dari perbuatan sebagai konsekwensinya. Aku baru tahu bahwa ada batas yang jelas dalam pergaulan antara lawan jenis dalam Islam. Aku baru mengenal bagaimana prosesi menuju pernikahan yang diridhaiNya. Ya, aku belajar.. dan terus mencoba untuk istiqomah. Meski sejujurnya setelah membaca buku itu jadi terbesit keinginan untuk menikah dini J

Sekarang sahabatku masih bertugas jauh diseberang lautan, tepatnya di pulau Ternate. Komunikasi tetap berlanjut untuk sekedar mempertahankan persahabatan dan idealisme yang telah banyak memperbaiki diri kami. Pernah aku ingin memberinya buku NPSP karya ustadz Salim ini, ternyata ia sudah pernah membacanya. Akhirnya buku itu ku berikan kepada sahabat yang lain.

Meski jauh, ku selalu berharap persahabatan ini melangkah dan terus membimbing kami untuk menuju surgaNya. Karena surga nanti pasti sepi tanpa ada sahabat disana. Perpisahan selepas SMA itu masih menyisakan harap akan adanya pertemuan, minimal 4 tahun dimulai dari kelulusan itu kami sapakat, reoni angkatan HW SMAM 1 JOE GEN’06 dengan kebanggaan masing-masing. Memang tak ada yang salah dengan perasaan, sedalam apapun itu. Tapi bagaimana kita menyikapinya, Allah telah mengatur semua. Dan sebagai hamba yang beriman, kita tak punya alasan untuk tidak mengikuti hukumNya. Semoga esok lebih baik dari hari ini, dan Allah selalu ada bersama setiap langkah kita. Amin.

Tsaqif As-Sa’idah

Kisah ini disusun untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Oleh: muda99 | 06/06/2010

antara kita dan kematian

kematian akan selalu mengincar manusia. Dan tidak ada satupun yang dapat lolos darinya. Semua manusia akan merasakannya. Hanya saja waktu nya yang mungkin berbeda. Untuk itu hanya tinggal menunggu waktunya. Entah nanti, esok, lusa atau tahun kemudian. Manusia tidak tahu kapan kematian menjemputnya. Kematian itu sama entah karena sakit, tertembak, tertabrak atau keracunan Yang membedakannya hanyalah Islam atau kafir. Manusia tidak tahu berapa banyak dosa yang dilakukannya, begitu juga dengan pahala kebaikannya, dia tidak tahu. Untuk itu kumpulkanlah pahala-pahala kebaikan sebanyak-banyaknya dan jangan dihitung apalagi diingat-ingat. Ingat-ingat saja dosa yang pernah dibuat dan segeralah minta ampun selagi nyawa belum sampai tenggorokan. Terakhir jangan cari kematian, rindukan kematian, ingat selalu kematian dan jangan takut dengan kematian karena kematian adalah gerbang menuju Rabb semesta alam.

Oleh: muda99 | 05/06/2010

Cewek Di Mata Cowok

Bener nih cowok lebih ngutamain fisik kala menilai cewek? Sejauh mana? Apa bener kepribadian jadi nggak penting?
Entah ini kenyataan yang bikin gembira atau sedih buat kaum Hawa, bahwa penampilan cewek ternyata memikat perhatian kaum cowok at first sight. Buat cowok, pertama kali yang dinilai dari seorang cewek ya penampilannya. kecantikan emang jadi yang paling dominan jadi perhatian.
Boyz, ini nggak cuma pendapat segelintir cowok, tapi umumnya demikian. Mata cowok bakal jelalatan begitu ngeliat mahluk feminin yang manis-cantik. Kepala mereka bisa ampe miring-miring bahkan jatuh ato nabrak tembok demi pemandangan indah tersebut. Ini juga artinya mereka bakal mengeliminasi cewek yang penampilannya biasa-biasa saja, apalagi yang di bawah standar (jangan sewot, galz). Gawatnya lagi, nggak sedikit kaum cowok yang sampe blinded, jadi memutuskan tali persaudaraan bahkan persahabatan dalam urusan nyari cewek semata ngeliat fisik belaka. Apakah kalian termasuk????
Eksploitasi Kecantikan
Boyz, tahukah kamu, tabiat dasar cowok yang seneng ama cewek cakep ternyata dimanfaatin betul oleh sebagian orang yang gag bertanggung jawab. Coba aja perhatiin, hampir semua kantor masyarakat karyawatinya kudu berpenampilan ‘menarik’. Nah, menarik ini kan kagak jelas. Tapi pastinya untuk jadi front office (FO), SPG (Stand Promotion Girl), pramuniaga, sampai sekretaris selalu yang jadi prioritas adalah kecantikan dan bentuk tubuh. Belum ada kan nenek-nenek jadi FO atau SPG?. Dagang rokok ampe mobil aja pasti ditongkrongin cewek yang cakep. Tujuannya jelas, menjadi daya tarik konsumen, terutama bagi yang cowok.
Repotnya lagi, ada sebagian cewek yang juga senang jadi pusat perhatian. Mereka nggak segan-segan tampil atraktif. Bisa dengan polesan kosmetik, parfum, atau pakaian yang seronok. Mereka ngeh banget kalau sisi penampilan adalah yang pertama kali diliat oleh kaum Adam. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang cowok matanya jelalatan, yang cewek suka cari perhatian.
Nah, ini yang kemudian dieksploitasi abis-abisan oleh para kapitalis. Mereka sadar betul kalau kecantikan itu komoditi yang laris manis dijual. Adanya kontes kecantikan atau ajang pemilihan model kan ide orisinilnya adalah menjual kecantikan. Hanya supaya nggak dibilang kebangetan diimbuhi label beauty & brain. Padahal sih, dagangan pokoknya tetap kecantikan.
Dengan merebaknya gaya hidup hedonis, yang ngutamain kesenangan fisik, penampilan jelas makin penting. Buat mereka, ukuran terpuji dan tercela-nya adalah apa yang dirasa nyaman oleh indera dan pikiran semata. Hedonisme ini sudah jadi hukum opini buat banyak orang. Saking kuatnya pengaruh hedonis ini, menilai lawan jenis pun selalu berdasarkan penampilan. Please, deh!
Jaga Pandangan
Wah, mubazir kalau kagak diliat, rejeki kq ditolak, jarang-jarang ada pemandangan kayak gini. Kayaknya gitu tuh omongan para boyz saat ngeliat cewek cakep. Kalaupun nggak sampai jelalatan minimal matanya ngintip lewat kerlingan mata. Apalagi kalau ceweknya juga ‘ngejual’. Wajah yang cantik, bodi yang semlohai bin eplok cendol, tampil atraktif memikat perhatian cowok.
Boyz, suka dengan cewek yang cute apalagi fisiknya cool, itu memang sah-sah aja. Cowok mana seh yang nggak suka. Semua suka, boyz! Tapi kagak bisa dong kita berbuat cuma berdasarkan suka atau nggak suka. Kalau itu yang terjadi ancur deh pergaulan pria dengan wanita. Ngebiarin mata jelalatan juga bukan perbuatan yang positif. Selain ngerusak pikiran, pastinya dosa. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah pada orang-orang beriman, tundukkanlah sebagian pandangan mereka dan jagalah kemaluan mereka, itu lebih suci dari mereka,(An Nuur:30)

Pandangan juga bikin pikiran jadi nggak karuan. Bukankah setelah ngeliat cewek cakep pikiran jadi ngebayangin yang nggak-nggak. Padahal belum tentu itu cewek mau sama kita. Artinya kita udah buang-buang pikiran untuk hal yang nggak berguna. Kita mikirin dia, padahal dianya belum tentu mikirin kita. Rugi banget, kan? Nggak salah kalau Rasulullah menyebut pandangan macam itu sebagai zina mata.
“Anak Adam tidak bisa melepaskan diri dari zina. Zinanya mata adalah dengan memandang …”
Allright boyz, selametin deh pandangan dan pikiranmu dari hal-hal yang negatif. Caranya? Ikuti tips-tips di bawah ini.
• Nggak memandang aurat wanita. Inget boyz, seluruh tubuh wanita adalah haram kecuali muka dan telapak tangannya. So, palingkan pandangan dari selain keduanya. Terserah, mau merem (asal jangan merem-melek), mau berpaling, mau nunduk, whatever yang penting nggak ngeliat.
• Memandang muka dan telapak tangan nggak dengan syahwat. Meski oke-oke aja memandang keduanya, tapi nggak boleh dengan syahwat. Kalau dengan syahwat jelas haram. Apa sih batasan syahwat? Menurut sebagian ulama syahwat itu ditandai dengan adanya nafsu atau kecenderungan seksual seperti ereksi, baik sedikit ataupun banyak. Gampangnya, kalau ngeliat monyet kita nggak nafsu kan?
• Memandang wanita pada auratnya hanya boleh dalam lamaran. Rasulullah saw. mengizinkan pria untuk melihat wanita seutuhnya yakni saat akan melamar. Mereka boleh melihat selain muka dan telapak tangan. Meski ini juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada sebagian ulama yang tetap mengharamkan melihat selain muka dan telapak tangan.
• Wanita mahram boleh membuka jilbabnya. Kalau kamu baca surat An Nur ayat 30-31, maka itulah kelompok wanita yang termasuk mahram. Para wanita yang mahram ini diizinkan untuk membuka jilbab dan kerudungnya di hadapan pria mahramnya. Bagi yang non mahram,,,, Gag boleh gals membuka aurat….
Pribadi Lebih Utama
kata pepatah. Jangan nilai orang dari penampilan. Bener banget, penampilan seringkali menipu. Ibarat buku, ada yang keren sampulnya doang. Isinya sih nggak bermutu. Nah, begitu juga kalau kita menilai pribadi cewek dari penampilan, bisa-bisa kejebak.
Allah SWT. udah ngasih kita peringatan soal yang satu ini. FirmanNya:
أSesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, adalah yang paling bertakwa di sisi Allah.أ¢â‚¬آ(Al Hujurat:13)
Kata Nabi saw, kalau kita memilih pasangan hidup karena agamanya, maka kecantikannya, keturunannya yang baik, dan kekayaannya niscaya akan datang. Nah, jangan deh liat perempuan dari penampilannya doang. Salah-salah bisa ketipu.[januar]

Ehm, jangan su’udzan dulu ya…
Ana Cuma ingin menyampaikan beberapa ayat yang ada di Q.S. Al-Isra’:

Ayat 78 :Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh . Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Ayat 79 : Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Ayat 80 : Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong

Ayat 81 : Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Dan dalam Q.S. Al Muzammil ayat 2-4:
“bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)”
Kemudian dalam ayat 3:
(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
Dan ayat 4 menyebutkan:
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Selanjutnya pada ayat 6:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”

Yupz,
Beberapa ayat di atas memang menganjurkan kita untuk bangun malam. Untuk begadang bukan sembarang begadang sobat…

Tapi begadang untuk mempererat cinta kita kepadaNya. Karena di sepertiga malam yang akhir itulah, ada banyak hal yang Allah janjikan untuk kita. Ketenangan, kesuksesan, rasa dekat denganNya, seakan kita tak kan lagi membutuhkan dunia dan isinya. Cukup Allah saja buat kita, Dialah segalanya. Segala nikmatNya yang ada untuk kita adalah lebih dari cukup. Bahkan rasa syukur kita mungkin tak pernah benar-benar sebanding denganNya. Just trust it!

Begitulah, Allah telah menyediakan waktu istimewa untuk kencan-kencan kita. Bukan sepekan sekali, tapi setiap hari!

Dan adalah hak kita sepenuhnya. Untuk menyambutNya dengan penuh cinta pula, atau mengabaikanNya, dengan membenamkan diri di tengah tumpukan selimut yang hangatnya hanya sebentar saja kita rasa di dunia?

Itulah pilihan. Toh Allah tak pernah menuntut. Karena sesungguhnya, bukan Allah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan hadirNya, disetiap waktu, bahkan setiap desah nafas kita. Kita membutuhkanNya disetiap perjalanan menuju ridhaNya..

Sobat muda, mulai membiasakan diri untuk shalat tahajjud yuk??

Mari kita mulai dengan menyalakan alarm keras-keras dan meletakkanya jauh dari jangkauan tangan kita sebelum tidur. Lalu ketika ia menyala, ingatlah Allah tengah menanti kita dalam pelukan kasihNya,..

Semoga kita termasuk hambaNya yang sabar, dan selalu dilindungi dalam naungan kasihNya yang tiada tara.

Wallahu a’lamu bi as shawab..

Oleh: muda99 | 05/06/2010

Zuhud

Tentu sobat muda pernah mengenal kata ini, atau setidaknya mendengar. Bias anya zuhud diidentikkan dengan orang yang menjauhkan diri dengan kehidupan duniawi, hidup serba pas-pasan, dan lain sebagainya yang biasa disebut dengan kesederhanaan.

Lalu apakah sebenarnya zuhud itu? Sobat muda yang dirahmati Allah, jika kita mengenal sosok para sahabat utama Rasulullah, atau setidaknya membaca risalah mereka, kita dihadapkan pada kisah-kisah yang menakjubkan, dimana mereka mampu menyumbang untuk keperluan perang hingga ribuan dinar. Padahal jika dinilai dengan mata uang rupiah saat ini, 1 dinar= sekitar Rp. 1.350.000,-!! Bayangkan bagaimana kehidupan para sahabat pada masa itu. Apakah mereka hidup dengan bergelimang harta??

Dikisahkan bahwa Utsman bin Affan yang menyumbangkan setengah hartanya untuk kepentingan islam. Padahal ia terkenal sebagai saudagar yang kaya raya. Umar bin Khottob yang menyumbangkan segaian besar hartanya untuk berperang di jalan Allah. Lalu Abu Bakar As Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya untuk keperluan perang, bahkan ia hanya meninggalkan Allah dan RasulNya untuk keluarganya. Abdurrahman bin ‘auf yang menikah dengan mahar emas seberat biji kurma, padahal ketika itu ia baru hijrah 1 bulan di madinah. Beliaulah salah satu sosok hartawan kala itu, saat meninggal beliau mewariskan tidak kurang dari 80.000 dinar untuk masing-masing istrinya dan puluhan ribu dinar yang lain disumbangkan untuk kepentingan kaum muslim. Setelah Rasulullah wafat, Ardurrahman bin ‘Auf r.a pula yang memenuhi kebutuhan para ummahatul muslimin, subhanallah…

Ya, mereka memang bergelimang harta. Bagi kita yang suka membaca sejarah, kita akan tahu bahwa masyarakat arab termasuk masyarakat yang hedon dan gemar memamerkan prestise. Maka tak perlu heran jika mereka terbiasa dengan kehidupan yang serba mewah. Tapi setelah islam datang, Rasulullah mengajarkan pada para Assabiqunal Awwalun untuk mencintai islam melebihi apapun. Bahkan diri mereka sendiri. Ya, mereka lebih mencintai islam. Allah dan RasulNya, lebih dari harta, jiwa, bahkan keluarga dan orang-orang yang menyayangi atau mereka sayangi. Subhanallah…

Zuhud, menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, zuhud adalah tidak terlalu bahagia ketika menerima duniawi dan tidak sedih ketika kehilangan duniawi. Dalam redaksi yang lain disebutkan : sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat. Orang yang zuhud akan senantiasa bersyukur dan membelanjakan hartanya di jalan Allah ketika mendapat rizqi. Pun mereka tidak bersedih ketika kehilangan harta atau kesenangan yang sifatnya duniawi. Karena mereka sadar, bahwa duniawi, berupa harta, jabatan, keluarga, atau apapun yang mereka kuasai di dunia ini pada hakikatnya adalah milik Allah semata. Semua ini hanyalah titipan. Kapan saja titipan itu boleh dipercayakan atau diambil oleh pemiliknya. Kapan saja.
Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori